Korupsi dan Kursi
Tanyalah rakyat di negeri ini, pasti paham yang disebut korupsi. Dari anak murid SD hingga manula yang rambut beruban selalu dengar tentang korupsi. Namun, tunggu dulu Bung? Mereka belum tentu tahu apa yang dimaksudkan dengan kursi. Ya, kursi empuk yang selalu diduduki pejabat yang korupsi. Kenapa? Soalnya, mereka hanya selalu duduk di kursi yang membuat pantat saja yang nyaman, tetapi perut lapar. Beda dengan pejabat di pemerintahan yang dududk di kursi empuk, hidupnya enak dan harta berlimpah.
Wah! Begitulah di negeri ini. Namun, belakangan ini naga-naganya lain, Bung? Pejabat sudah tak enak lagi duduk di kursi empuk. Waduh, pejabat banyak yang sudah dicekam ketakutan. KPK mereka anggap bak momok yang menyeramkan? Kejaksaan juga, meski baru tahap mengincar pejabat kelas teri.
Lantas apa hubungannya korupsi dengan kursi? Kursi yang dulunya dianggap sangat enak untuk diduduki, sekarang bak kursi yang banyak kepindingnya. Pejabat pemerintahan yang tidak lihai, pasti terkulai dilantak KPK atau Kejaksaan atas tindakannya mengakal-akali uang negara yang disebut korupsi. Ngerilah!.
Begitu pun, belakangan ini masih banyak orang yang ingin memburu kursi. Apalagi kalau bukan kursi dewan terhormat. Walau pun untuk menjadi anggota dewan memerlukan perjuangan berat. Menghabiskan fulus, Bung! Okelah, buat yang memburu kursi jangan bermimpilah. Sebab, bukan tidak mungkin nantinya setelah duduk enak dimomoki oleh KPK dan Kejaksaan pula.
Apa pun ceritanya, rakyat hanya bisa jadi penonton menyaksikan perkembangan negeri ini. Begitulah, Bung!
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed